Perjalanan Malam, What i saw

19.11

Keluar dari parkiran (labirin) Sardjito menyusuri JaKal. Hell. Mataku ini udah blereng liat benderangnya lampu-lampu jalanan. Silau. Sakit. Begitu lihat jam tangan yang menunjukkan jam 19.16 motor langsung kupercepat. Wah, pokoknya target sampai rumah jam setengah delapan harus terpenuhi! 

Kesalahanku, milih lewat mirota kampus ke timur, walhasil, macet di perempatan. Oh yeah! malam-malam, mata sakit kesorot lampu, capek, kejebak macet pula! it's really annoying, tapi di balik kepenatan menunggu macet itu, aku melihat sesuatu yg luar biasa. 

inilah yang kulihat.

di pinggir jalan ada sepasang kekasih, bukan sepasang kekasih biasa, umur mereka mungkin sama kayak eyangku, skitar 70-73 tahunan. Mereka bermesraan, bukan bermesraan ala pemuda-pemudi 2011, bermesraan ala mereka. Si Kakek menyuapi si Nenek, miris, si Nenek tidak disuapi dengan makanan yang 'wah'. sepengetahuanku, sepenglihatanku, itu hanya nasi, ya, HANYA NASI, nasi tanpa lauk. Kemudian, tampaknya si Nenek tidak kuat menahan serbuan dinginnya malam, beliau menggigil, wajar, bajunya compang-camping. Melihat hal itu, si Kakek dengan sigap dan gentle melepaskan jaket bututnya dan menyampirkan ke pundak si Nenek. 

what a view. Cinta mereka tetap kuat  walau kondisi kehidupan mereka kurang baik. Subhanallah.

0 komentar:

Posting Komentar